JOHN OWEN

1616 -- 1683 Teolog

        JOHN OWEN: PENDETA DAN PENULIS YANG SETIA MENCARI TUHAN

  Dia melalui semuanya dengan jujur. Ayahnya (bungsu dari lima belas
  bersaudara -- semuanya laki-laki) telah lama menanti adanya
  reformasi pada gereja korup sehingga dia disebut "Puritan"; label
  yang akan anaknya, John, sandang dan hiasi dengan segala talentanya
  selama beberapa dekade.

  Owen lahir di desa Stadham, Oxfordshire, dari pasangan penuh
  perhatian yang memberikan "sekolah rumah" untuk anak mereka yang
  terlalu cepat menjadi dewasa sebelum mengirimnya ke SMU dan
  kemudian, pada umur 12 tahun, ke Oxford. Di universitas, Owen
  mempelajari matematika, filosofi, dan musik. (Bertahun-tahun
  kemudian, ketika menjabat sebagai kepala administrasi di Oxford, dia
  menunjuk guru menyulingnya sebagai profesor musik.)

  Ketika Owen menenggelamkan dirinya untuk belajar (tidur tidak lebih
  dari 4 jam setiap malam), seorang tokoh kampus menetapkan peraturan
  yang nantinya akan dia tentang selama hidupnya. Kepala Uskup Laud,
  Rektor Oxford dan musuh abadi dari apa yang dilakukan Reformis
  Inggris, memutuskan untuk membersihkan universitas dari orang-orang
  yang tidak setuju dengan agenda anti-Injilnya. Dia langsung membuat
  sebuah ketetapan baru dalam bidang keagamaan yang dia tahu para
  mahasiswa pendukung reformasi tidak akan setuju, kemudian
  menggunakan ketidaksetujuan mereka itu sebagai dalih untuk membuang
  mereka. Dia memaksa mereka yang belum juga keluar dari universitas
  melalui "Star Chamber" dan "High Commission"-nya yang terkenal
  buruk. High Commission mengajukan mereka yang belum mau keluar dari
  universitas ke "London Chamber", tempat terjadinya kezaliman,
  kesewenang-wenangan, dan interogasi berlebihan tanpa adanya banding.
  Laud menyaksikan Owen dengan sedih keluar dari universitas, tempat
  dia menghabiskan masa 9 tahun yang indah bersama belahan jiwanya:
  belajar.

  Sementara itu, atasan Laud, Raja Charles I, membuat jutaan orang
  marah dengan hinaannya kepada parlemen dan korupsinya untuk
  meningkatkan keuangan. Perang saudara pecah.

  Di tengah situasi tersebut, anak muda yang secara rohani kehilangan
  arah itu berjalan kaki bermil-mil jauhnya ke sebuah gereja untuk
  mendengarkan khotbah si gembala sidang. Hari itu, si gembala sidang
  tidak berkhotbah. Pendeta penggantinya mengatakan, "Mengapa kamu
  takut, kamu yang kurang percaya?" (Mat. 8:26). Pada akhir ibadah,
  Owen menyadari kedamaian yang melebihi segala akal karena khotbah
  itu didapatnya di tengah pergolakan yang ada dalam hatinya dan
  kondisi di luaran. Tuhan yang telah ia coba hindari selama
  bertahun-tahun, tetapi tidak berhasil, akhirnya membebaskannya
  dengan merangkulnya. Sejak itu, Owen terus mencari -- tapi tak
  pernah menemukan -- nama orang yang khotbahnya telah membuatnya
  menerima Yesus.

  Owen bahagia bekerja sebagai pendeta dan rajin bekerja sebagai
  penulis saat buku pertama dari 27 buku besar dan tebalnya tercipta
  dari ujung penanya.

  Pada Januari 1649, ia melihat Charles I diadili dan dihukum mati
  atas dakwaan pengkhianatan, kezaliman, dan pembantaian. Lalu
  Aprilnya, ketika ia diminta untuk berkhotbah kepada anggota
  parlemen, Owen menguraikan "On the Shaking of Heaven and Earth"
  (Ibrani 12:27). Di situlah dia menarik perhatian Oliver Cromwell,
  pimpinan pasukan parlemen dalam perang saudara. Cromwell melihat
  Owen bukan hanya sebagai seseorang yang brilian, tapi juga seorang
  administrator yang sangat andal. Segera setelah itu, Owen menjadi
  Wakil Rektor Universitas Oxford, posisi yang mengatur semua urusan
  universitas. Tenaga eksekutif diperlukan dalam universitas itu sejak
  keadaan akademi membaik, organisasi dalam universitas tidak
  beroperasi lagi karena sebagian dari organisasi itu digunakan untuk
  menampung tentara dan bekal persediaan; bahkan universitas dililit
  utang yang sangat banyak. Owen menegur para pemimpin universitas
  yang marah-marah dan mengasihani diri mereka sendiri dengan berkata,
  "... meratap tidak akan membuat kita menjadi orang yang akan diingat
  dan dihargai. Hasil dari ketegaran kita untuk bertahan menghadapi
  beban beratlah yang membuat kita menjadi berharga." Tidak lama
  kemudian, universitas itu mulai bangkit, profesor-profesor yang
  diakui secara internasional dipilih, mahasiswa miskin dibantu, dan
  seorang teman yang tidak beruang sama sekali, yang menulis tentang
  Owen dalam bahasa Latin, diangkat sebagai dosen! Saat itu, Owen
  adalah anggota komite Cromwell, dia menulis teologi yang karenanya
  dunia ada, dan dia bahkan menjadi anggota parlemen.

  Ketika sebagian besar anggota parlemen mencalonkan Cromwell untuk
  menjadi raja, Owen menulis laporan singkat yang membuat pencalonan
  itu batal. Karena marah, Cromwell menunjuk anaknya, Richard, sebagai
  rektor universitas. Dalam enam minggu, Richard menyingkirkan Owen.
  Dengan keluhuran budi, dan bukan kepahitan, dia pindah ke sebuah
  gereja desa.

  Pada tahun 1660, setelah kematian Cromwell, kerajaan dipulihkan.
  Sekali lagi kaum Puritan ditentang. Sebuah undang-undang
  mengilegalkan penyembahan yang dilakukan lebih dari lima orang kaum
  Puritan. Murid-murid Owen lenyap dan jemaatnya tersebar. Pada tahun
  1662, undang-undang lain (penyebab timbulnya Pengusiran
  Besar-Besaran atau "The Great Ejection") membuat dua ribu pendeta
  dari kaum Puritan tidak memunyai tempat tinggal dan uang sama
  sekali. Mereka berjalan pada malam hari dan berkhotbah pada siang
  harinya dengan bekal iman. Undang-undang lain memberi imbalan bagi
  mereka yang mau mengkhianati kaum Puritan.

  Penghuni gereja membludak dan kapal-kapal imigran memenuhi
  kargo-kargo mereka dengan manusia ketika penyakit mewabah di London.

  Para pengurus dan majelis Established Church melarikan diri supaya
  tak tertular, sementara para tokoh Puritan membantu mereka yang
  sekarat dan masih bertahan hidup. Di kota-kota besar, jemaat-jemaat
  bentukan baru menghargai para pendeta Puritan -- namun begitu,
  undang-undang lain melarang pendeta Puritan untuk berkhotbah lagi
  sejauh lima mil dari tempat di mana dia berkhotbah sebelumnya.
  Terasing ke desa-desa terpencil, mereka kembali ke London ketika
  kebakaran besar (The Great Fire) melalap bangunan-bangunan gereja
  yang lenyapnya secepat munculnya gereja besar Puritan yang dibangun
  dari kayu. Owen sendiri kembali ke London. Dengan pergolakan yang
  terjadi di mana-mana, dia menulis tentang alat diagnostik hati
  manusia yang paling akurat, "Sin and Temptation". Dengan tabah, dia
  tetap tinggal di London, bahkan saat parlemen memberlakukan lagi
  undang-undang yang menentang kaum Puritan.

  Sehari sebelum meninggal, Owen menulis, "Aku meninggalkan gereja
  yang ibaratnya adalah kapal yang diterpa badai; tapi selama Sang
  Nahkoda yang luar biasa berada dalam kapal itu, hilangnya seorang
  pendayung tidak akan ada artinya."

  Orang lain lebih mengerti. Hari Minggu setelah kematiannya,
  pengikutnya, Pendeta David Clarkson, meratap, "Kita pernah memunyai
  cahaya pada lilin ini. Kita tidak cukup menghargainya."

  Benarkah? Dari dulu sampai sekarang, cahaya yang dari Puritan itu
  tak ternilai harganya. (t/Dian)

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Nama situs: Bio-Kristi
  Judul asli artikel: John Owen (1616 -- 1683)
  Penulis: Victor Shepherd
  Alamat URL: http://biokristi.sabda.org/john_owen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: